Karakter itu (bukan) Takdir - Sekolah Kristen Kalam Kudus Surakarta

Selasa, 26 April 2016

Karakter itu (bukan) Takdir

Karakter itu (bukan) Takdir
Karakter itu (bukan) Takdir

Dalam sebuah sesi pembelajaran di kelas, seorang siswa bertanya kepada guru, "Pak, mengapa ya kok saya diciptakan seperti ini? Rambut saya keriting, tubuh tidak tinggi, dan kulit saya hitam. Saya juga sulit menahan amarah, padahal saya ingin bisa menjadi sabar." sontak teman-temannya menjawab, "itu sih takdir!".

Cerita di atas menunjukkan pemahaman bahwa manusia diciptakan Tuhan secara unik. Setiap keunikan, mulai dari ciri-ciri fisik hingga keunikan karakter dipahami beberapa orang sebagai anugerah Tuhan (given). Ekspresi umum yang muncul dari orang yang memiliki pemahaman seperti ini adalah, "karakter saya memang demikian. Mau apa lagi? Saya menjadi demikian sudah dari sono-nya, ini adalah takdir dan keberuntungan saya". Semua karakter yang dimiliki seolah diluar kendali diri. Karena itu tidak ada gunanya jika jika kita berusaha untuk mengatasinya. Manusia dalam pemahaman ini dianalogikan sebagai wayang di tangan dalang, jika saatnya masuk kotak, ya masuk kotak, jika mau tampil, ya langsung tampil. Benarkah pemahaman seperti ini?

Karakter
istilah karakter sendiri secara etimologis menimbulkan ambiguitas. Kata karakter berasal dari bahasa Yunani yaitu karaso yang berarti cetak biru atau format dasar. Para tetua Yunani melihat bumi sebaga karakter, artinya sesuatu yang bebas, hebat, tidak dapat dikuasai manusia. Ketika orang Yunani melihat laut beserta dengan gemurunya atau kilat beserta dengan kedasyatannya, mereka melihat sesuatu yang tidak bisa dikuasai oleh manusia. Manusia bisa saja mencoba mengatur, tetapi selalu saja bumi akan mengatur dirinya, bahkan mengatur manusia.

Namun pemahaman di atas hanya pemahaman sepenggal. Orang Yunani juga memahami bahwa bumi ternyata memberikan karakter pada realitas lain. Bumi yang membentuk karakter ciptaan lainya. Jadi, karakter bisa dibentuk. Karaktermempunyai dua unsur, yaitu: given (sesuatu yang diberikan dari "sana") dan willed (sebuah proses yang dikehendaki).

Pemahaman willed inilah yang menjadikan karakter harus dididik dan dibentuk. Pembentukan karakter dilakukan melalui pengajaran teoritis dan pengalaman praktis (pembiasaan). Artinya, setiap hari, harus ada upaya pendidikan (pembiasaan) karakter. Itu berarti, jangan bosan melatih kebiasaan baik setiap hari.

Pendidikan Karakter
pendidikan karakter dipahami sebagai sebuah bantuan sosial agar individu menghayati kebebasannya dan melatih dirinya untuk bertumbuh menjadi insan yang berkeutamaan. Menjadi "manusia berkeutamaan" harus dimulai dengan menjadi manusia yang berani berkata ya untuk kehendak diri yang baik dan tidak untuk kehendak diri yang kurang baik.

Pembiasaan karakter akan menghasilkan manusia yang memiliki karakter yang kuat, yang mampu menilai diri dan mampu mengatasi kelemahan dirinya. Orang berkarakter kuat tidak mau dikuasai begitu saja oleh realitas yang telah ada. Orang yang demikian mampu merancang masa depannya. Sebaliknya, orang yang berkarakter lemah adalah orang yang tunduk pada kumpulan kondisi yang diberikan kepadanya tanpa mau menguasainya. Karakter orang menjadi lemah karena membiasakan dirinya dikuasai keinginan tanpa mampu membedakannya.

Karakter ada dan dibentuk oleh diri dan lingkungan. Mari kita membiasakan diri kita dengan kebiasaan yang baik. Kita bisa karena biasa.

Oleh Palguno Setyonugroho, S.Th.

Baca Rekomendasi Terkait Lainnya

Baca Rekomendasi Kategori Lain

© 2016 - | Sekolah Kristen Kalam Kudus Surakarta