Bukan Kehendakku, Melainkan Kehendak-Mu
Bacaan Alkitab: Lukas 22:39-42
Taat kepada Allah dan kehendak-Nya bukan perkara mudah karena kelemahan dan kecenderungan yang membuat kita tidak sepenuh hati mengasihi Allah dan menaati kehendak-Nya. Selain itu, sering kali kita juga membayangkan beratnya konsekuensi dari menaati Allah yang harus kita tanggung.
Dalam perikop ini digambarkan tentang ketakutan luar biasa yang dialami oleh Yesus. Ia begitu takut sampai-sampai Ia melukiskan peristiwa kematian-Nya sebagai “cawan”. Dalam Perjanjian Lama, cawan adalah simbol murka. Yesus tidak takut pada paku dan tombak atau salib. Yang Yesus takutkan adalah kematian-Nya berarti perpisahan dengan Allah.
Namun dalam pergumulan hebat yang dialami Yesus, Ia menunjukkan ketaatan penuh pada kehendak Allah Bapa. Yesus lebih mengutamakan kehendak Allah di atas kehendak atau keinginan-Nya. Sebab hanya dengan cara ini persekutuan manusia berdosa dan Allah dipulihkan.
Kehidupan yang kita jalani ini pun tidak terlepas dari kesulitan dan berbagai pergumulan. Dan di dalam setiap pergumulan yang dihadapi, Allah rindu agar kita mengutamakan kehendak-Nya. Kita harus taat pada kehendak Allah, bahkan jika itu tidak sesuai dengan keinginan kita. Pada saat seperti inilah kemenangan terjadi dalam hidup kita.
Allah tidak pernah keliru menetapkan rencana dan kehendak-Nya atas hidup kita. Jangan pernah meragukan Dia. Mari mohon agar Allah menolong kita untuk memahami kehendak-Nya dalam hidup ini dan meyakini bahwa kehendak-Nya adalah yang terbaik bagi kita.
“Tuhan, tolonglah kami untuk taat pada kehendak-Mu dan percaya bahwa kehendak-Mu adalah yang terbaik bagi kami”


0 Komentar