Jujur di Hadapan Tuhan
Bacaan Alkitab: Mazmur 13:1-6
Andi sedang merasa sangat kesal dengan temannya. Lalu ketika pergi beribadah, seluruh jemaat diajak berdoa untuk mengampuni orang lain. Hati Andi sebenarnya masih diisi kemarahan, tetapi karena diminta berdoa, akhirnya Andi menutupi kemarahannya dan membungkus kalimat doanya dengan begitu rohani. Andi katakan, “Yang lalu biarlah berlalu, saya tidak apa-apa, saya mau ampuni dia.”
Pernahkah kita mengalami hal seperti ini juga? Apa yang kita ungkapkan tidak sama dengan yang kita rasakan, bahkan di hadapan Tuhan. Padahal kejujuran dan keterbukaan adalah ekspresi hati yang diperlukan dalam kita berelasi dengan Tuhan.
Mazmur 13 memperlihatkan kejujuran dalam doa Daud. Ayat 2, “Berapa lama lagi, ya TUHAN, Engkau melupakan aku?” Daud mengungkapkan perasaan frustasi dan kebingungannya dengan gamblang. Tidak ada yang ditutupi, tidak ada kepura-puraan, dia sampaikan perasaannya apa adanya, tetapi tetap dengan kata-kata yang penuh hormat dan diakhiri dengan keyakinan iman pada Tuhan yang pasti akan menolong dan menyelamatkannya.
Demikianlah doa yang seharusnya, di mana kita tidak menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya. Tuhan adalah adalah Pencipta yang Mahatahu. Dia tahu keluhan dan kekecewaan kita, kemarahan atau kekuatiran, dan Tuhan mau kita sampaikan semuanya pada-Nya yang pasti mendengar dan gantikan dengan damai sejahtra. Mari kita memandang Tuhan sebagai sahabat yang paham isi hati kita lebih dari siapapun yang kita percaya di bumi.
Doa bukan sekadar kata-kata rohani, tetapi ungkapan hati yang jujur di hadapan Tuhan.


0 Komentar